Banca’aan

Banca’aan. Dalam bahasa jawa banca’aan punya arti sakral. Dihubung-hubungkan dengan makna kehidupan, sejak (menandai) kelahiran hingga (menandai) saat kematian. Bahkan ketika seseorang masih dalam kandungan sudah ditandai dengan banca’aan. Ada yang menyebut mitoni. Kemudian ketika sang jabang bayi lahir ada banca’aan lagi, namanya mudun lemah (anak yang baru menginjakkan kaki ke tanah).

Masih ada sederetan banca’aan lagi ketika seseorang harus menjalani kehidupan di muka bumi sampai di akhir hayatnya alias menghembuskan nafas. Banca’aan pun ternyata masih berkelanjutan, namanya banca’aan memperingati 7 (tujuh) hari, 40 (empat puluh) hari, 100 (seratus) hari dan seterusnya, sampai 1000 (seribu) hari.

Sebenarnya makna banca’aan di sini cuma sebuah tradisi yang maknanya memperingati atau merayakan sesuatu dengan maksud mengenang jati diri seseorang, tentu disertai harapan dan doa kepada Sang Maha Pencipta agar diberikan Karunia Rahmat. Dengan adanya banca’aan seolah-seolah antara hidup dan Dzat Pemberi Kehidupan “nyambung”.

Dulu di kampung saya (waktu kecil) ada banyak banca’aan yang dilakukan oleh komunitas penduduk se kampung. Banca’aan Muludtan (memperingati Maulid Nabi), banca’aan 17-an (memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia) dan sebagainya. Di beberapa daerah atau desa ada banyak banca’aan untuk sekedar menjalankan tradisi.

Dalam konteks tertentu saya senang. Senangnya apa? Bisa kumpul-2 warga, terutama sesama anak-anak. Lantas seneng juga kalo sedang rebutan jajan pasar, nasi kuning. Biasanya banca’aan massal kayak gitu masing-masing penduduk membawa masakan sendiri-sendiri untuk kemudian ditukar dengan bawaan penduduk yang lain. Jadi dalam situasi dan suasana tertentu banca’aan diartikan bersenang-senang, tetapi dalam kata lain diartikan sedang susah (kalau memperingati hari kematian).

Sekarang saya melihat banca’aan dalam arti lain. Banca’aan bisa diidentikan dengan pesta, dengan suasana penuh kemeriahan. Di koran malah (sering) ada berita tindakan korupsi yang dilakukan bersama-sama (dilakukan banyak orang) disebut dengan banca’aan. Ada banca’aan kas desa, artinya uang yang ada di kas desa dikorup. Ada banca’aan dana non budgeter, artinya dana non budgeter tersebut ludes dikorup rame-rame. <arifin>

2 Responses to Banca’aan

  1. dari kecil sampek sekarang saya sering banca’an.
    tapi bukan yang banca’an paragaraf terakhir lho… :)

  2. hehehe….mas arifin emang bisa aja bikin perumpamaan. mau dong tulisannya lagi !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s