Plat Nomor “L”

surabaya.jpg

Ada yang ngerti gak kenapa kok plat nomor kendaraan di Surabaya di awali huruf L ?
Kalau mau tahu jawabannya coba deh pergi ke Kebun Binatang Surabaya, trus liat patung khas kota ini yang terletak tepat didepan pintu masuk Kebun Binatang, kalau gak mau capek pergi kesana anda bisa melihat photo yang ada diatas.

Dulu, pas ngambil photo ini ada seseorang nyeletuk “mas, laopo ? mhoto patung lele-boyo ta ?” -mas, ngapain? ngambil photo patung lele-buaya ya ?-

Kalau diliat2 emang ada benarnya, setelah saya lihat-lihat patung ini gak mirip patung ikan sura(hiu) dan buaya, tetapi lebih mirip ikan lele =], dan karena itulah plat nomor wilayah
Surabaya di kasih initial “L” yang mungkin berarti Lele.

Lain halnya dengan Jakarta yang Batavia, atau Malang yang Ngalam karena identik dengan boso walikan-nya (bahasa kebalikan).

Tapi terlepas dari benar tidaknya tulisan di atas, sampai saat ini saya belum pernah tahu siapa pengagas dan pembuat patung ini., dan sudah berapa lama “dia” berdiri disana. -teguh-

Taman Prestasi

prestasi.jpg

Aha.. hanya dengan 1500 Rupiah per orang kita bisa menikmati tepi kalimas yang nyaman. Latar belakang gedung2 bertingkat seakan ingin berkata : Selamat Datang, Anda berada di Surabaya, Kota Metropolis, Nikmati suasananya. Ayunan, mobil berputar dan patung petruk menambah suasana taman ini memang patut dikunjungi keluarga kecil.

Ruang parkir memang mungkin jadi kendala bagi anda yang berkendaraan roda empat, namun bagi yang bersepeda motor mungkin mudah. Yang pasti setelah anda selesai membayar uang parkir dan tiket masuk, kita bersama akan disuguhkan oleh rangkaian taman yang dengan patung Adipura yang kokoh. Taman ini mengenalkan kepada anak-anak kita bahwa kebersihan itu indah, taman ini memberikan ruang bagi anak untuk memahami bahwa hijaunya dedaunan adalah karunia-Nya yang patut disyukuri dan dinikmati. Continue reading

Es Teler Jalan Pacar Keling

Es TelerBeberapa waktu lalu, saya diajak seorang rekan untuk menikmati Es Teler paling enak di Surabaya. Saya sangat penasaran, kayak apa rasa es paling enak di Surabaya itu. Ternyata letaknya ada di warung pinggir jalan di Ujung Jalan Pacar Keling. Ada dua atau tiga penjual disitu, dan beberapa penjual makanan lain seperti soto ayam dan bakso.

Ya, ternyata memang enak, ada rasa durian di kuahnya, dan yang paling penting buahnya sangat buanyak dan beraneka ragam. Apel, nangka, melon, mangga, sawo, degan dan sebagainya. Tumplek bleg dalam satu mangkuk berukuran jumbo. Karenanya, jika anda ingin ke sana, saya sarankan jangan makan dulu agar perut anda muat.

Saya kira ini adalah makanan sehat, karena komposisinya adalah buah-buahan sehat, hanya saya kurang tahu dengan komposisi kuahnya. Dan harga enam ribu rupiah tidak bisa disebut mahal untuk semangkuk es teler yang katanya paling enak di Surabaya itu.

Lokasinya bisa dilihat di Wikimapia

Mmm Mak Nyus.
(achedy)

Pasar Turi Kebakaran

p7280047.jpg

Sedih mendengar Pasar Turi terbakar. Tentu lebih sedih lagi para pedagang yang mempunyai stan disana. Semua masyarakat Surabaya juga sedih sekaligus kaget, kok bisa separah itu, padahal kan dekat dengan PMK, hanya beberapa puluh meter saja.

Pasar Turi menjadi tumpuan perdagangan Surabaya, juga Jawa Timur, bahkan Kawasan Timur Indonesia. Banyak barang-barang yang dikulak dari situ. Beberapa kali saya pernah berkunjung ke sana dan membuktikan barang-barang disana memang murah dengan kualitas yang tidak kalah dengan di pasar modern.

Kondisinya memang tidak beda dengan pasar grosir dan pasar tradisional di tempat yang lain. Lorong-lorong yang sempit, barang yang bertumpuk dimana-mana dan undara yang pengap. Continue reading

Banca’aan

Banca’aan. Dalam bahasa jawa banca’aan punya arti sakral. Dihubung-hubungkan dengan makna kehidupan, sejak (menandai) kelahiran hingga (menandai) saat kematian. Bahkan ketika seseorang masih dalam kandungan sudah ditandai dengan banca’aan. Ada yang menyebut mitoni. Kemudian ketika sang jabang bayi lahir ada banca’aan lagi, namanya mudun lemah (anak yang baru menginjakkan kaki ke tanah).

Masih ada sederetan banca’aan lagi ketika seseorang harus menjalani kehidupan di muka bumi sampai di akhir hayatnya alias menghembuskan nafas. Banca’aan pun ternyata masih berkelanjutan, namanya banca’aan memperingati 7 (tujuh) hari, 40 (empat puluh) hari, 100 (seratus) hari dan seterusnya, sampai 1000 (seribu) hari. Continue reading

Bangunan Mangkrak

Adistana, Ngagel
Foto by Teguh

gedung.jpg

Seperti tidak mau kalah dengan Jakarta, Surabaya ingin berkembang menjadi kota besar. Sebagai tandanya dibangunlah gedung-gedung tinggi dan pusat perbelanjaan modern. Hanya dalam hitungan beberapa tahun saja, sudah berdiri banyak gedung dan pusat perbelanjaan menambah jumlah koleksinya. Belum disebut metropolitan jika belum banyak berdiri pencakar langit yang tinggi menjulang, belum lengkap pula jika belum ada mall-nya.

Tetapi di tengah perjalanan, banyak gedung dan mall yang belum selesai pembangunannya, banyak pula yang memang sengaja tidak diselesaikan karena tersangkut masalah. Bangunan-bangunan tesebut antara lain terletak di JL. Panglima Sudirman, Jl. Tunjungan, Embong Malang dan yang terbaru bangunan mall di Ngagel.

Pemerintah kota merasa terganggu dengan itu. Bangunan-bangunan yang sedianya menjadi tanda kemodernan kota berubah menjadi perusak pemandangan. Dan yang lebih membuat gerah, pembangunan gedung dan mall mengorbankan gedung-gedung tua yang menjadi cagar Continue reading

Orang Gila

Pemerintah Kota Surabaya saat ini sedang menghadapi masalah. Dinas Sosial akan melepaskan sejumlah orang gila dari lingkungan pondok sosial (liponsos) Keputih. Masalahnya, Dinsos tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan dasar penghuni cacat mental tersebut. Sebenarnya sudah ada anggaran yang masuk ke liponsos dari program penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), namun dana tersebut sekarang sudah menipis.

Kalau dana PMKS nanti benar-benar tidak ada, ya bagaimana lagi. Orang-orang -gila- di Liponsos akan dengan terpaksa kami lepaskan,” ujar Kepala Dinas Sosial Pemkot Surabaya, Mochammad Munief, seperti yang dikutip Surya Online Senin (11/6).

Jumlah orang gila yang ditampung di liponsos Surabaya semakin hari semakin bertambah, ini disebabkan oleh semakin genjarnya Satpol PP dan Kepolosian mengadakan rasia. Orang gila yang saat ini ditampung di liponsos Keputih sebanyak 730 orang. Padahal kapasitas liponsos hanya 150 sampai 200 orang saja. Continue reading

Penjual Buah

Waktu menunjukkan pukul 19.00, tapi suasana pasar Keputran sudah penuh sesak dengan para pedagang sayur yang menanti pembeli. Pasar Keputran telah menjadi pusat sayur mayur di Surabaya, berbagai sayur mayur dari penjuru Jawa Timur dikirim ke pasar ini. Belasan tahun lalu, beberapa pendatang mencoba mencari peruntungan dengan berjualan di luar pasar. Pembeli yang menemukan komoditas sama dengan harga seperti di dalam Pasar Keputran akhirnya memilih berbelanja di luar. Pedagang di dalam Pasar Keputran yang merasa tersaingi pun memilih berjualan di lapak di luar pasar.

Tidak hanya pedagang sayur saja yang menggantungkan nasib mereka dari keberadaan Keputran, seperti pedagang buah yang mangkal di depan pasar misalnya, sebelum menjadi penjual buah di Surabaya, pria kelahiran Madura ini bekerja sebagai tukang kayu dengan penghasilan bersih 20 – 35 ribu rupiah/hari, merasa penghasilannya tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan keluarga, bapak ini nekat merantau ke Surabaya. Dan, Alhamdulillah dengan pendapatan bersih 50 ribu/hari kebutuhan hidup keluarga di Madura bisa tercukupi, tapi hal ini harus dibayar dengan jarangnya dia bertemu dengan keluarga, Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulud Nabi telah menjadi jadwal tetap untuk beliau bisa pulang dan bertemu dengan keluarga. Tetapi dia khawatir dengan rencana relokasi yang belakangan terdengar…<teguh>

Nol Kilometer

panorama
Foto : Taman Bungkul by Teguh

Dimanakah letak nol kilometer ? tentu ya di tengah-tengahnya, pusat dari segala arah. Nol kilometer, titik tengah dan pusat Kota Surabaya ada di Taman Bungkul. Dari situlah awal perhitungan jarak ke semua arah dari Surabaya. Waktu jaman reformasi dan setelahnya, lahan yang banyak ditanami bunga dan pohon itu dijadikan start awal para demonstran menggelar aksinya, sebelum kemudian bergerak menuju Balaikota atau Gedung Grahadi. Nol kilometer mempunyai makna yang sesungguhnya bagi para demonstran itu.

Di taman itu juga terdapat makam Mbah Bungkul, yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Bungkul. Konon Beliau adalah mertua dari Sunan Ampel, salah satu sunan yang sembilan (Wali Songo). Banyak peziarah yang datang ke makam itu. Tidak sedikit pula rombongan dari daerah menyempatkan diri berkunjung sebagai pelengkap ziarah Wali Songo. Continue reading